Seni Mengikat Hafalan

Seni Mengikat Hafalan

Seorang santri  penghafal Al-Qur’an pernah ditanya, “sudah berapa banyak hafalannya?” Lantas bibir kanannya bergerak ke kanan 1 cm, begitupula bibir kirinya, membentuk sesabit senyuman, “Alhamdulillah, sudah 20 juz.” Yang bertanya pun terkagum-kagum, “MasyaaAllah, bentar lagi khatam dong.”

Masih dengan senyuman, “Iya, mohon doanya ya…” . percakapan itu berhenti sepersekian detik, usai keduanya hening dalam pikiran masing masing. Tiba-tiba, sang penanya berseloroh, “Eh, jadi bisa dong diuji 20 juz itu.” Yang ditanya terdiam sejenak, lantas menjawab dengan cengirannya. “Hee.. yang mutqin baru 2” katanya sembari mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya.

“2 juz?” Tanya temannya kembali.

“Engga, 2 surat. Hehe”.  Gubrak!

                Memang acapkali kita mendengar kisah semisal, atau bahkan diri kita sendiri yang pernah, atau sedang mengalaminya.

Menghafal Al-Qur’an adalah pekerjaan mulia dimana pasti ada ujian-ujian saat menjalaninya. Salah satu ujian terberatnya ialah kesalahan niat, semisal menghafal Al-Quran karena ingin mendapat pujian orang, demi mendapat gelar hafidz atau hafidzah, ingin dimuliakan, atau ingin disanjung sesama manusia. Hal seperti ini dapat menyebabkan fatalnya hafalan Al-Qur’an dimana ayat-ayat yang menempel dikepala hanyalah sebatas tekstual belaka, atau yang diingat ‘hanya’ lembar yang terakhir disetorkan. Lalu, kemanakah perginya berpuluh-puluh juz yang telah susah payah dihafalkan? Kemana perginya ratusan ayat yang telah disetorkan?

Jika sudah demikian, maka bukan lagi “Alhamdulillah, hafalan saya sudah 20 juz”, tetapi “Alhamdulillah, saya sudah pernah hafal 20 juz.” Sebuah kenyataan pahit bagi penghafal Al-Qur’an ketika harus mengakui keadaan semisal.

Untuk itu, penting bagi kita untuk mengetahui bahwa menghafal Al-Qur’an juga memiliki seni tersendiri seperti pekerjaan-pekerjaan lainnya. Seni khusus yang mebutuhkan kesabaran, ketekunan, dan juga keistiqomahan. Berat? Tentu. Karena surga tidaklah murah. Ada harga yang harus dibayar, dan harga itu bernama: pengorbanan.

Karena Al Qur’an itu pencemburu. Saat kita lengah sedikit saja, terlena dengan hal yang sia-sia, hilanglah hafalan kita.

“Ah, kata siapa? Gak ngaruh kali! Itu si fulan maksiat jalan, hafalan masih nempel-nempel aja!”

Hati-hati, mungkin itu adalah istidraj. Suatu keadaan dimana Allah malah memberi pelaku maksiat kenikmatan atau kesenangan, dan nanti, akan ada saat dimana kenikmatan itu diambil dengan seketika. Na’udzubillah tsumma na’udzubillah.

                Nah, berikut adalah beberapa cara yang bisa kita lakukan agar hafalan Al Qur’an tetap berada di kepala :

  1. Menjaga niat

Niat ialah sebuah pondasi. Dimana ketika sebuah pondasi itu rapuh, maka akan amat

mudah hancur bangunan yang berdiri diatasnya. Begitupula dengan hafalan Al-Qur’an. Menjaga kemurnian niat menghafal karena Allah subhanahu wa ta’ala, keikhlasan dalam melakoninya akan menghasilkan kualitas hafalan yang baik. Tak hanya dari segi kuatnya hafalan, tapi juga dari segi kemudahan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

 

  1. Mengulang hafalan Tiap salat.

 

Mengulang hafalan tiap salat; baik itu salat wajib maupun sunnah, adalah salah satu cara yang efisien untuk menguatkan hafalan. Apalagi saat salat tahajud, karena pada sepertiga malam merupakan waktu yang tepat untuk belajar, membaca, atau muroja’ah. Atau, sebagai tips, ketika hendak menambah hafalan baru,  shalat sunnah 2 rakaat terlebih dahulu akan memudahkan masuknya hafalan Al-Qur’an. Bi idzinillah.

  1. Murojaah bil ghaib.

Merupakan teknik mengulang hafalan dengan tanpa melihat mushaf sama sekali. Caranya mudah, kita hanya perlu menyediakan waktu khusus dan panjang untuk mengulangi hafalan yang telah disetorkan. Kalau ada ayat yang lupa, usahakan jangan tergoda untuk membuka mushaf, tetapi bertanyalah pada guru atau teman.

  1. Muroja’ah sabqi.

Merupakan teknik mengulang hafalan dengan menjadikan awal juz sebagai start awal

muroja’ah. Cara ini cocok dilakukan dengan teman, atau yang terpenting ada yang menyimak murojaah kita.

  1. Istiqomah dan isti’anah.

Jika kita tidak istiqomah dalam muraja’ah berarti kita sedang membahayakan hafalan Al-Qur’an kita sendiri. Usahakan tetap memurojaah hafalan Al-Qur’an kita setiap hari, walau sedikit. Sisanya, jangan lupa untuk selalu berdoa dan meminta pertolongan pada Sang Pemberi Ilmu, karena kita tidak bisa menghafal kecuali atas rida dan pertolongan-Nya.

Jadi, jangan pernah rela menyandang gelar ‘‘mantan penghafal Al-Qur’an’’ hanya karna kita tidak mmurojaah hafalan. Karena pada hakikatnya, kewajiban seorang penghafal Al-Qur’an adalah mengulang hafaln setiap hari, sampai nanti, ketika maut telah menghampiri.

Jangan pernah lelah ketika berada di barisan  “The guardian of kalaamullah”

Keep in touch with Al Qur’an !

 

Penulis: Maulidia Zakia