Info Sekolah
Wednesday, 10 Aug 2022

Jenis-Jenis Puasa Sunnah: Penyempurna

Diterbitkan :

 

Jenis-Jenis puasa Sunnah cover

Jenis-Jenis Puasa Sunnah : Banyak Pilihan Untuk Penyempurnaan – Puasa adalah ibadah wajib yang dilaksankan oleh muslim sebagaimana puasa ini juga dilaksanakan oleh umat terdahulu. Namun, di antara yang wajib ada pulapuasa sunnah yang memiliki manfaatnya cukup banyak.

Jenis-Jenis Puasa Sunnah: Puasa sendiri memiliki manfaat yang banyak baik untuk fisik maupun fisikis. Manfaat untuk fisik misalnya mengeluarkan racun-racun, menstabilkan pencernaan, melancarkan peredaran darah dan lain-lain. Manfaat fisikis yaitu menenangkan pikiran, meningkatkan kefokusan, dan lain-lain.

Jenis-Jenis Puasa Sunnah

1. Puasa Senin-Kamis

Tentu puasa sunnah banyak jenisnya. Satu di antaranya dan umumnya banyak dilaksanakan adalah puasa Senin-Kamis. Sesuai dengan namanya puasa ini dilaksanakan pada hari senin dan kamis. Fungsi dari ibadah sunnah yang dilakukan untuk menyempurnakan puasa wajib. Mengenai puasa Senin-Kamis ini Rasulullah Shollollohu Alaihi Wasallam bersabda: “Segala amal perbuatan manusia pada hari Senin dan Kamis akan diperiksa oleh malaikat, karena itu aku senang ketika amal perbuatanku diperiksa aku dalam kondisi berpuasa.” (HR. Tirmidzi)

2. Jenis puasa lainnya yaitu puasa ArafahPuasa

Arafah dilaksanakan pada tanggal 9 Dzul hijjah tiap tahunnya. Ketentuan puasa Arafah sama halnya dengan puasa lainnya. Hanya berbeda waktunya saja. Walau demikian puasa Arofah memiliki keistimewaan tersendiri. Sebagaimana Hadits Nabi Muhammad Shollollohu ‘Alaihi Wasallam “Puasa Arofah (9 Dzulhijjah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang.” (HR. Muslim)

3. Puasa Tiga Hari Setiap Bulan Hijriyah

Puasa sunnah berikutnya puasa ayyamul Bidh. Dianjurkan berpuasa tiga hari setiap bulannya, pada hari apa saja.

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُفْطِرُ أَيَّامَ الْبِيضِ فِي حَضَرٍ وَلَا سَفَرٍ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada ayyamul biidh ketika tidak bepergian maupun ketika bersafar.” (HR. An Nasai no. 2345. Hasan).

Dari Abu Dzar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda padanya,

يَا أَبَا ذَرٍّ إِذَا صُمْتَ مِنَ الشَّهْرِ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ فَصُمْ ثَلاَثَ عَشْرَةَ وَأَرْبَعَ عَشْرَةَ وَخَمْسَ عَشْرَةَ

“Jika engkau ingin berpuasa tiga hari setiap bulannya, maka berpuasalah pada tanggal 13, 14, dan 15 (dari bulan Hijriyah).” (HR. Tirmidzi no. 761 dan An Nasai no. 2424. Hasan)

4. Puasa Daud

Puasa Daud dilakukan dengan sehari berpuasa dan sehari tidak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أحَبُّ الصِّيَامِ إلى اللهِ صِيَامُ دَاوُدَ، وَأحَبُّ الصَّلاةِ إِلَى اللهِ صَلاةُ دَاوُدَ: كَانَ يَنَامُ نِصْفَ الليل، وَيَقُومُ ثُلُثَهُ وَيَنَامُ سُدُسَهُ، وَكَانَ يُفْطِرُ يَوْمًا وَيَصُوْمُ يَوْمًا

“Puasa yang paling disukai oleh Allah adalah puasa Nabi Daud. Shalat yang paling disukai Allah adalah Shalat Nabi Daud. Beliau biasa tidur separuh malam, dan bangun pada sepertiganya, dan tidur pada seperenamnya. Beliau biasa berbuka sehari dan berpuasa sehari.” (HR. Bukhari no. 3420 dan Muslim no. 1159)

5. Puasa di Bulan Sya’ban

‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan,

لَمْ يَكُنِ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يَصُومُ شَهْرًا أَكْثَرَ مِنْ شَعْبَانَ ، فَإِنَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak biasa berpuasa pada satu bulan yang lebih banyak dari bulan Sya’ban. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada bulan Sya’ban seluruhnya.” (HR. Bukhari no. 1970 dan Muslim no. 1156).

6. Puasa Enam Hari di Bulan Syawal

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia seperti berpuasa setahun penuh.” (HR. Muslim no. 1164)

7. Puasa di Awal Dzulhijah

Dari Hunaidah bin Kholid, dari istrinya, beberapa istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَصُومُ تِسْعَ ذِى الْحِجَّةِ وَيَوْمَ عَاشُورَاءَ وَثَلاَثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ أَوَّلَ اثْنَيْنِ مِنَ الشَّهْرِ وَالْخَمِيسَ.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada sembilan hari awal Dzulhijah, pada hari ‘Asyura’ (10 Muharram), berpuasa tiga hari setiap bulannya[10], …” (HR. Abu Daud no. 2437. Shahih).

8. Puasa ‘Asyura

Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhuma berkata bahwa ketika Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam melakukan puasa hari ’Asyura dan memerintahkan kaum muslimin untuk melakukannya, pada saat itu ada yang berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ – إِنْ شَاءَ اللَّهُ – صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ ». قَالَ فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّىَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-.

“Wahai Rasulullah, hari ini adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nashrani.” Lantas beliau mengatakan, “Apabila tiba tahun depan –insya Allah (jika Allah menghendaki)- kita akan berpuasa pula pada hari kesembilan.” Ibnu Abbas mengatakan, “Belum sampai tahun depan, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam sudah keburu meninggal dunia.” (HR. Muslim no. 1134).

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Beri Komentar

Pesantren Tahfid Ar-rasyid PTA

Tulisan Lainnya

Oleh : Pesantren Tahfid Ar-rasyid PTA

Pondok Tahfidz Di Jawa Timur

Oleh : Sumardi Solin

Memahami Kegagalan

Oleh : Pesantren Tahfid Ar-rasyid PTA

Manfaat puasa senin Kamis bagi pria

Oleh : Sumardi Solin

MENGURAI MASALAH TANPA LELAH

Oleh : Pesantren Tahfid Ar-rasyid PTA

Pondok Tahfidz di Malang: Kota Pendidikan

Oleh : Hermansyah

ABSTRAK