JANGAN BANGGA TELAH MELAKUKAN MAKSIAT

JANGAN BANGGA TELAH MELAKUKAN MAKSIAT; Setiap manusia pasti tak luput dari kesalahan yang berdampak pada perbuatan dosa. Manusia dalam hidupnya, selalu dihadapakan pada dua pilihan, yakni baik-buruk, iman-kafir, syukur-kufur, dan lainnya. Sekalipun manusia terjebak dalam suatu dosa, maka cara yang paling tepat adalah menyesali dan segera melakukan taubat. Namun ada dosa yang tidak diampuni ALLAH ﷻ, yaitu dosa golongan ‘Mujahirin’ (orang yang melakukan dosa secara terang-terangan). Lebih berat lagi apabila dalam melakukan dosa/maksiat itu ia mengajak orang lain.

Dan termasuk juga masuk dalam golongan ini adalah orang yang melakukan dosa secara sembunyi akan tetapi kemudian dengan terbuka ia menceritakan perbuatan maksiatnya kepada orang lain. Bangga lantaran telah melakukan sebuah dosa adalah sebuah ‘pernyataan langsung’ bahwa seseorang berani menantang ALLAH ﷻ.

Suatu hari, Rasulullah ﷺ mengingatkan para sahabat:

“Setiap umatku akan mendapat ampunan, kecuali mujahirin (orang-orang yang terang-terangan berbuat dosa).

Dan yang termasuk terang-terangan berbuat dosa adalah seseorang berbuat (dosa) pada malam hari, kemudian pada pagi hari dia menceritakannya, padahal ALLAH ﷻ telah menutupi perbuatannya tersebut, yang mana dia berkata,

“Hai Fulan, tadi malam aku telah berbuat begini dan begitu.”

Sebenarnya pada malam hari Rabb-nya telah menutupi perbuatannya itu, tetapi pada pagi harinya dia menyingkap perbuatannya sendiri yang telah ditutupi oleh ALLAH ﷻ tersebut.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Mereka tidak malu-malu lagi berbuat maksiat. Bahkan seolah bangga menikmatinya, lalu menceritakannya dan malah mengajak teman-temannya. Tempat-tempat maksiat pun tanpa malu dan ragu bebas berdiri dan beroperasi di mana-mana. Bahkan transaksi maksiat pun di-online-kan, berbuat dosa pun bersama-sama. Padahal, dengan terang-terangan berbuat dosa itu, sama saja dengan menantang hukum ALLAH ﷻ. Dan itu akan mempercepat turunnnya azab ALLAH ﷻ.

Jangan bangga telah melakukan maksiat.

Allah berfirman,

وَعَصَى ءَادَمُ رَبَّهُ فَغَوَى . ثُمَّ اجْتَبَاهُ رَبُّهُ فَتَابَ عَلَيْهِ وَهَدَى . قَالَ اهْبِطَا مِنْهَا جَمِيعًا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلاَ يَضِلُّ وَلاَ يَشْقَى . وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِى فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى . قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَى وَقَدْ كُنتُ بَصِيرًا . قَالَ كَذَلِكَ أَتَتْكَ ءَايَاتُنَا فَنَسِيتَهَا وَكَذَلِكَ الْيَوْمَ تُنسَى . وَكَذَلِكَ نَجْزِي مَنْ أَسْرَفَ وَلَمْ يُؤْمِن بِئَايَاتِ رَبِّهِ وَلَعَذَابُ اْلأَخِرَةِ أَشَدُّ وَأَبْقَى

Dan Adam pun mendurhakai Rabb-nya, maka ia sesat. Kemudian Rabb-nya (Adam) memilihnya, maka Dia menerima taubatnya dan memberi Adam petunjuk. Allah berfirman, “Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk dariKu, lalu barangsiapa yang mengikuti petunjukKu, ia tidak akan seat dan ia tidak akan celaka. Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatanKu, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. Berkatalah ia:”Ya, Rabb-ku, mengapa Engkau menghimpun aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya seorang yang bisa melihat”. Allah berfirman:”Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari inipun kamu dilupakan”. Dan demikanlah Kami membalas orang yang melampaui batas dan tidak percaya terhadap ayat-ayat Rabb-nya. Dan sesungguhnya adzab di akhirat itu lebih berat dan lebih kekal [Thaha/20 :121-127].